ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH DESA | SCHOLAE

Kamala Harris Perempuan Desa dari India, Cawapres Pertama di AS

Rabu , 04 November 2020 | 21:11
Kamala Harris Perempuan Desa dari India, Cawapres Pertama di AS
Kandidat calon Wakil Presiden Kamala Harris yang merupakan dari Capres Joe Biden dari Partai Demokrat. (iNews)

LEBIH dari 12.870 kilometer dari Washington, para perempuan India memberikan dukungan bagi 'America lady' (wanita Amerika) di kampung halaman kakek dari kandidat calon wakil presiden Kamala Harris.

Ketika penduduk setempat mengadakan doa khusus di kuil Thulasendrapuram untuk kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan umum AS pada 3 November, M Umadevi (34) - yang terpilih menjadi anggota dewan desa pada bulan Desember - mengatakan bahwa dia terhubung dengan Harris sebagai sesama politisi wanita.

“Dia adalah putri desa kami,” kata Umadevi, yang memiliki seorang putra berusia lima tahun dan menjahit pakaian untuk menafkahi suaminya, seorang pengemudi.

"Ini pasti sulit dan menantang baginya. Tetapi hal baru memang seperti itu. Saya juga merasa senang dan gugup atas peran baru saya."

Desa yang terletak sekitar 320 km (200 mil) selatan kota Chennai di negara bagian Tamil Nadu itu adalah tempat kelahiran kakek dari pihak ibu Harris lebih dari satu abad yang lalu.

Harris lahir di negara bagian California dari seorang ibu berdarah India dan ayah keturunan Jamaika yang keduanya berimigrasi ke Amerika Serikat untuk belajar. Dia mengunjungi Thulasendrapuram ketika dia berusia lima tahun dan berbicara tentang berjalan-jalan di pantai Chennai dengan kakeknya.

Mantan jaksa agung California, Harris (55) adalah wanita kulit hitam pertama dan orang keturunan India pertama yang dinominasikan untuk jabatan nasional oleh sebuah partai besar - dan hanya wanita keempat yang mendapatkan pencalonan presidensial.

Umadevi mengatakan prioritasnya sebagai anggota dewan desa, yang mewakili sekitar 200 keluarga yang sebagian besar merupakan petani, adalah membangun jalan aspal.

"Hal pertama dalam daftar saya adalah memastikan kami memiliki jalan yang benar," katanya kepada Thomson Reuters Foundation dalam wawancara telepon.

"Ini dalam kondisi yang sangat buruk dan hampir tidak bisa disebut jalan. Jalan yang baik akan membawa keberuntungan yang lebih baik."

Ambisi

Tidak seperti Harris yang memiliki gelar sarjana hukum, Umadevi putus sekolah saat berusia 15 tahun atas keputusan ibunya.

Sekitar 60 persen anak perempuan di India berpendidikan tetapi beberapa negara bagian mencatat tingkat yang lebih tinggi, lebih dari 90 persen, menurut data sensus terakhir India.

Di distrik Thiruvarur, tempat Thulasendrapuram berada, tingkat literasi mencapai lebih dari 82 persen, dengan pejabat pendidikan distrik menyatakan bahwa semua anak perempuan bersekolah.

Umadevi mengatakan pendidikan adalah kunci jika generasi anak-anak perempuan berikutnya di desa ingin menjadi orang yang berprestasi tinggi seperti Harris, yang senyumannya terpampang di spanduk di Thulasendrapuram, desa yang mengharapkan kesuksesan untuknya dalam pemilu.

“Hari ini, semua anak perempuan kami belajar, bahkan jika itu berarti pergi ke sekolah menengah yang jaraknya beberapa kilometer dari desa,” kata Umadevi.

"Perguruan tinggi juga jauh tetapi banyak yang masih melanjutkan (studi) dan mendapatkan gelar," katanya, dan menambahkan bahwa kaum muda di daerah tersebut masih merasa sulit untuk mendapatkan pekerjaan dengan bayaran yang baik.

Di Sekolah Menengah Tinggi Negeri di desa tetangga Painganadu, guru bahasa Inggris S Tamilselvan telah mengikuti pidato kampanye Harris dan berencana menggunakannya untuk memotivasi siswanya.

"Dia sangat pandai bicara dan jelas," katanya dilansir Antara dari Reuters.

"Murid-murid saya tahu tentang dia, tetapi saya ingin setidaknya beberapa dari mereka berhasil seperti dia. Sebagian besar murid saya adalah pelajar generasi pertama dan bahkan yang paling cerdas pun merasa sulit untuk mengartikulasikan ambisi mereka."

Hemalatha Raja juga merupakan anggota dewan desa Thulasendrapuram. Seperti Umadevi, dia menggambarkan dirinya sebagai ibu rumah tangga yang terpilih untuk masa jabatan lima tahun karena 33 persen kursi disediakan untuk wanita.

Terlepas dari kurangnya pendidikan formal atau kualifikasi, kedua wanita ini memiliki hasrat yang sama dengan Harris untuk keadilan sosial.

"Saya ingin menyelesaikan semua masalah yang dihadapi orang-orang dari lingkungan saya," kata Raja (36) yang putus sekolah ketika dia berusia 13 tahun, karena orang tuanya tidak ingin dia pergi keluar desa untuk menempuh pendidikan menengah atas.

"Saya tidak tahu apakah saya bisa tetapi saya ingin mencoba. Dan semua pembicaraan tentang bagaimana seseorang dengan latar belakang dari desa kami melakukan hal-hal besar di Amerika juga mendorong saya untuk berusaha lebih keras."

Fakta Wanita Kulit Hitam Cawapres Pertama di AS

1. Keturunan India pertama yang dipilih partai besar AS Memiliki nama lengkap Kamala Devi Harris, wanita berusia 55 tahun ini lahir pada 20 Oktober 1964 di Oakland, California. Ia adalah putri dari pasangan orangtua imigran. Ibunya kelahiran India yang bekerja sebagai peneliti kanker payudara, sedangkan ayahnya profesor ekonomi emeritus Universitas Stanford yang lahir di Jamaika.

Nama "Kamala" artinya "bunga teratai" dalam bahasa Sanskrit, juga nama lain dari Dewi Hindu, Lakshmi. Ia pernah mengunjungi India beberapa kali semasa kecilnya dan mengenal beberapa keluarganya di sana. Namun karena orangtuanya bercerai ketika usianya 7 tahun, Kamala Harris tinggal di Oakland dan Berkeley dengan menghadiri beberapa gereja yang didominasi orang Afro-Amerika. Harris menikah dengan seorang pria Yahudi, pengacara Los Angeles Douglas Emhoff. Mereka bertemu pada kencan buta di San Francisco dan menikah pada 2014

2. Bangga dengan keturunan India Kamala Harris dikenal sebagai politikus kulit hitam terkemuka, tapi dia juga bangga dengan darah Indianya. "Nama saya diucapkan "Comma-la ", seperti tanda baca," tulis Kamala Harris dalam otobiografinya tahun 2018, The Truths We Hold. Senator California itu juga menjelasan arti namanya. "Artinya bunga teratai, yang merupakan simbol penting dalam budaya India. Teratai tumbuh di bawah air, bunganya menjulang di atas permukaan sementara akarnya tertanam kuat di dasar sungai."

3. Pernah jadi jaksa dan anti-hukuman mati Profil Kamala Harris adalah mantan jaksa penuntut yang menangani beberapa kasus penembakan polisi terhadap warga sipil, ketika masih menjabat sebagai jaksa agung di California. Namun semasa jabatannya, dia menuai kritik dari aktivis sayap kiri yang menilai dirinya tidak cukup agresif dalam menindak departemen kepolisian. Harris berdalih, dia mencoba untuk melakukan perubahan dari "dalam" pemerintahan.

“Ketika kami ingin mereformasi sistem, seharusnya tidak hanya dari luar dengan memohon atau mencoba mendobrak pintu,” katanya kepada The Times. Ia pun menyerukan untuk mengakhiri penahanan massal, uang jaminan, dan hukuman mati, lalu membuat sistem peninjau polisi nasional, memberikan pelajar perguruan tinggi kulit hitam bebas utang, serta kebijakan lainnya.

Dalam catatan hukum Harris dikenal sebagai jaksa wilayah San Francisco, yang menentang hukuman mati termasuk dalam kasus besar. Menurutnya, dasarnya adalah moral dan sebagai jaksa agung dia mengajukan banding atas keputusan hakim yang menyatakan hukuman mati, karena menurut dia hukuman mati di California tidak konstitusional. Baca juga: 5 Fakta Kamala Harris, Cawapres Joe Biden di Pilpres AS

4. Pandangan politik Melansir New York Times pada Selasa (11/8/2020), Joe Biden memilih Harris dengan alasan kuat. Sosok Harris sangat vokal terhadap rasialisme dan kekerasan polisi, yang mana dalam beberapa bulan belakangan telah menjadi isu yang sensitif dan memicu konflik berkepanjangan.

Namun Harris sempat menyulut kontroversi terkait isu penghapusan asuransi kesehatan swasta, di mana ia mendukung adanya penghapusan. Pendapatnya kontra dengan Biden yang ingin mengembangkan UU Perawatan Terjangkau, sehingga tidak mendukung ide penghapusan asuransi swasta.

Rencananya adalah menyediakan Medicare untuk semua orang Amerika, tetapi tetap memiliki peran penting bagi perusahaan asuransi kesehatan swasta dengan mengizinkan orang untuk memilih paket kesehatan swasta dalam bentuk Medicare Advantage

5. Kebijakan bisnis Profil Kamala Harris di Wall Street dan Sillicon Valley juga mentereng.

Setelah krisis keuangan 2008 dia menarik California keluar dari persoalan besar dengan bank-bank raksasa. Ia memanfaatkan kekuasaannya sebagai jaksa agung untuk mendapatkan lebih banyak uang dari pemberi pinjaman instrumen utang (hipotek) besar.

Dia kemudian mengumumkan bahwa pemilik rumah California akan menerima 12 miliar dollar AS (Rp 177,3 triliun) dalam bentuk keringanan hipotek berdasarkan penyelesaian. Namun ia masih mendapatkan kritik dari sayap kiri, yang mengatakan dirinya tidak cukup banyak berbuat untuk menekan pemberi pinjaman nakal, atau untuk mengatur industri teknologi, jika mengingat hubungan dekatnya dengan Silicon Valley.

Masalah kebijakan lainnya adalah pada 2016 ia mengeluarkan kebijakan tentang kendaraan otonom, yang digunakan untuk mendesak Uber menghapuskan kendaraan tanpa pengemudi dari jalanan California. Begitu dia berada di Washington DC para aktivis keamanan konsumen mengkritiknya, karena gagal menentang UU yang bertentangan dengan peraturan California yang keras tentang kendaraan otonom.

6. Disebut Trump "wanita gila" Julukan yang diucapkan Trump pada Kamis (13/8/2020) itu merujuk pada kebijakan pajak dan pengeluaran dari Partai Demokrat, yang dinilainya akan mendatangkan malapetaka bagi perekonomian "Negeri Paman Sam". Presiden ke-45 AS itu juga memperkirakan, perhatian Demokrat pada lingkungan akan membuat gedung Empire State Building dirobohkan. "Dia radikal kiri. Sekarang dia coba berpura-pura bukan, tapi dia orang paling liberal di Senat AS."

"Dia melakukan hal-hal buruk dalam kepolisian, dalam hal Amendemen Kedua, dalam hal lain-lain, dan dia adalah pembayar pajak besar sama halnya dengan Joe (Biden)," ucap Trump di Fox Business yang dikutip New York Post Kamis (13/8/2020). Senator California itu "semacam wanita gila," lanjut Trump.

 


Editor : Farida
KOMENTAR