ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH DESA | SCHOLAE

Nurmi, Perempuan Palu Relawan Demokrasi Pemilu Basis Perempuan

Sabtu , 06 April 2019 | 09:51
Nurmi, Perempuan Palu Relawan Demokrasi Pemilu Basis Perempuan
Ny Nurmi (45), ketua tim relawan demokrasi yang bergerak khusus dalam basis pemilih perempuan. (Antaranews)

PEREMPUAN berkerudung dengan baju rompi khusus bertuliskan "Relasi Demokrasi Pemilu" itu sedang duduk mencatat kemudian menimbang setiap bayi yang dibawa ibu rumah tangga di posyandu wilayah Birobuli Utara, Kecamatan Palu Selatan, Sulawesi Tengah.

Ibu rumah tangga itu sesungguhnya bukanlah seorang petugas kesehatan di posyandu itu, tetapi salah satu tenaga relasi demokrasi pemilu di Kota Palu yang ikut membantu KPU setempat untuk mensosialisasikan tentang Pemilu serentak Pilpres dan Pileg yang dijadwalkan berlangsung pada 17 April 2019.

Ibu rumah tangga tiga anak itu adalah Ny Nurmi (45), ketua tim relawan demokrasi yang bergerak khusus dalam basis pemilih perempuan.

Ia lahir di "Tanah Kaili" yakni Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah pada 14 Oktober 1973 dan suaminya berprofesi sebagai wiraswasta.

Menurut dia, menjadi tenaga Relasi Demokrasi bukan hal yang baru pertama kali dijalaninya.

Pertama kali menjadi tenaga relawan demokrasi pada Pemilu 2009 dan berlanjut 2014.

Ketika dibuka kesempatan kembali oleh KPU untuk menjaring orang-orang yang mau menjadi relasi demokrasi, maka dengan langkah yang pasti, ia mendaftar kembali dan berhasil masuk dalam jumlah 55 orang yang direkrut KPU menjadi tenaga relasi demokrasi Pemilu serentak 2019 ini.

Mengapa saya mau jadi relasi demokrasi pemilu?. Karena saya merasa harus lebih banyak menyuarakan aspirasi perempuan dalam pemilu presiden, legislatif dan DPD.

Bagaimanapun, kata dia, perempuan harus mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki untuk duduk sebagai anggota legislatif agar bisa menyuarakan aspirasi dari perempuan karena masih sering diabaikan.

Perempuan harus menyalurkan aspirasinya di pemilu ini. "Jangan hanya mau diam dan tinggal di rumah saja," kata Nurmi.

Perempuan jangan mau kalah dengan laki-laki.Dan jika aspirasi perempuan disalurkan saat hari pelaksanaan pemilu serentak, maka tentu akan bertambah banyak perempuan yang duduk di DPR, DPRD dan DPD.

Inilah yang melatarbelakangi sehingga ibu rumah tangga yang enerjik itu masuk sebagai tenaga relasi demokrasi pada Pemilu 2019.

Dia menuturkan banyak menemukan perempuan di lokasi-lokasi pengungsian di sejumlah titik di Kota Palu yang tadinya sudah tidak mau memilih pada Pemilu serentak, meski mereka sesungguhnya telah terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT), Daftar Pemilih Tambahan dan Daftar pemilih khusus.

Alasan mereka karena mau kosentrasi mengurus keluarga dan tempat tinggal mereka yang telah hancur lebur saat gempabumi berskala 7,4 SR yang menimbulkan tsunami dan likuefaksi pada 28 September 2018.

Namun, karena terus mendapatkan pencerahan dan edukasi dari para tim relasi demokrasi, akhirnya mereka menyatakan untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan memberikan aspirasi politik pada 17 April 2019.

Sebagai relasi demokrasi, kata dia, ketika mendengar bahwa perempuan di lokasi penampungan pengungsi korban bencana alam di Kota Palu mau ikut menyalurkan aspirasi mereka dalam pemilu dan menolak untuk golput, membuat hatinya begitu gembira dan bahagia.

Berarti sosialisasi yang dilakukan selama terbilang berhasil.

"Mari semua masyarakat berbondong-bondong menuju TPS pada 17 April 2019 untuk memberikan suara sesuai dengan hati nurani,"pintah Nurmi sebagaimana dilansir dari Antara.


Editor : Farida
KOMENTAR