ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

JK Bela Jokowi Soal Kontroversi "Ajakan Berkelahi"

Senin , 06 Agustus 2018 | 20:57
JK Bela Jokowi Soal Kontroversi
Jokowi dan JK dalam sebuah rapat kabinet

Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai pernyataan Presiden Joko Widodo kepada para relawannya untuk "berani berantem" adalah hal wajar.

"Kan, Pak Jokowi tidak mengatakan 'hantam', itu cuma mempertahankan diri; jadi wajar saja," kata Wapres Jusuf Kalla usai menghadiri Rapat Pleno Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta, Senin.

Wapres Kalla menilai ungkapan Presiden Jokowi dalam pidatonya itu bermaksud untuk mengajak para relawannya membela diri apabila ada tindakan reaktif dari kubu lawan terkait pilihan politik mereka.

"Artinya, kalau anda diserang kan musti mempertahankan diri. Masa diserang saja tidak mau mempertahankan diri, itu hukum itu membela diri," jelasnya seperti dikutip Antara.

Presiden menghadiri Rapat Umum Relawan Jokowi di Sentul International Convention Center (SICC) pada Sabtu (4/8). Dalam pidatonya, Presiden menyinggung terkait kampanye pada saat Pilpres 2019.

"Nanti apabila masuk ke tahap kampanye, lakukan kampanye yang simpatik. Tunjukkan diri kita relawan yang bersahabat dengan semua golongan. Jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah fitnah, tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang; tapi kalau diajak berantem juga berani," kata Presiden.

Sebagian dari video pernyataan Presiden tersebut diunggah ke media sosial hingga menimbulkan perdebatan di kalangan pengguna media sosial Tanah Air.

Sementara itu Presiden Jokowi membantah meminta para relawan pendukungnya agar siap jika diajak berkelahi saat berpidato dalam rapat umum relawan Jokowi di Sentul International Convention Centre, Sabtu pekan lalu.

Ia menjelaskan pernyataan dia kepada relawan yang viral di media sosial itu tidak disampaikan secara utuh.

Jokowi menuturkan dalam rapat umum itu ia menyerukan agar menjaga persatuan dan kerukunan. Sebabnya jangan sampai antarwarga saling membenci, mencela, dan menjelekkan hanya karena perbedaan pilihan presiden.

 

KOMENTAR