ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH DESA | SCHOLAE

Persahabatan Jokowi-Prabowo Vs Golput

Senin , 01 April 2019 | 12:52
Persahabatan Jokowi-Prabowo Vs Golput
Ilustrasi: Persahabatan Jokowi-Prabowo Vs Golput. (Republika)

Oleh: Arnaz Ferial Firman

DEBAT Calon Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto di Jakarta pada Sabtu malam, 30 Maret 2019, seharusnya membuka mata sedikitnya 190 juta calon pemilih tentang visi, misi hingga program kerja mereka, apabila terpilih sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan masa bakti Oktober 2019 hingga Oktober 2024.

Rakyat, baik melalui siaran televisi, radio dan lain-lain, bisa melihat dan mendengarkan secara langsung tentang bagaimana pandangan serta sikap mereka di bidang ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan serta hubungan luar negeri. Jokowi dan Prabowo "saling menyerang" mengenai berbagai topik yang menjadi tema pokok debat keempat calon presiden dan wakil presiden tersebut.

Prabowo yang merupakan purnawirawan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) itu, misalnya, minta Jokowi yang masih menjadi Presiden Republik Indonesia untuk bersikap hati-hati terhadap sikap "asal bapak senang (ABS)" dari jenderal-jenderal di sekitarnya. Letnan jenderal Purnawirawan tersebut berharap Jokowi untuk teliti dan waspada ketika menerima berbagai laporan anak buahnya.

Kedua capres ini kemudian juga berdebat tentang pengelolaan berbagai bandar udara serta pelabuhan laut. Jokowi yang berlatar belakang pengusaha kemudian menegaskan bahwa tidak bermasalah jika bandara atau pelabuhan yang pengelolaannya diserahkan kepada pengusaha swasta selama pemerintah tetap melakukan pengendalian.

Pada akhir debat ini, kedua tokoh tersebut saling melontarkan penghargaannya kepada lawan bicaranya serta selalu menyebutkan bahwa mereka adalah tetap bersahabat. Rakyat Indonesia perlu ingat bahwa selaku Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo telah beberapa kali mengundang lawan politiknya itu untuk bertandang ke Istana Kepresidenan.

Sebaliknya masyarakat juga tahu bahwa Jokowi pernah diundang oleh Prabowo untuk datang ke rumahnya di Hambalang, Bogor. Bahkan Jokowi diajak naik kuda. Bisa saja Jokowi dan Prabowo sekedar berbasa- basi dengan melontarkan kalimat bahwa di antara mereka tetap terjalin persahabatan.

Akan tetapi masyarakat juga tetap bisa percaya bahwa sekalipun ini adalah untuk kedua kalinya mereka bertarung dalam pemilihan presiden tahun 2014 dan 2019 ini, mereka tetap berusaha berteman serta menjalin silaturahim. Biar bagaimanapun juga sebagai Presiden petahana yang sedang berkuasa, Joko Widodo adalah tetap orang Solo yang terbiasa harus terus menunjukkan sikap menghormati dan menghargai pihak lainnya sekalipun lawan politiknya.

Sementara itu, Prabowo Subianto juga menyadari bahwa Joko Widodo adalah lawan tangguhnya dalam dua pilpres, apalagi selama empat setengah tahun ini sudah lahir berbagai prestasi yang dilahirkan Kabinet Kerja.

Tetap Golput ?
Sejak pemilihan umum tahun 1997 rakyat Indonesia sudah mengenal istilah golput (golongan putih), yakni sekelompok orang yang mempunyai pandangan politik atau ideologi yang berbeda, bahkan bertentangan dengan pemerintahan yang sedang berkuasa, dalam hal itu adalah orde baru. Namun golput tetap saja hadir hingga kini.

Ada saja alasan orang yang secara sadar masuk ke dalam kelompok golput misalnya saat ini yang menentang ideologi Presiden Joko Widodo yang mengutamakan pembangunan berbagai pasarana fisik mulai dari jalan tol, jalan, jembatan dan lainnya. Di negara demokratis mana pun juga adalah hal yang amat lumrah apabila ada warga yang berbeda dengan pemerintah yang sedang berkuasa.

Akan tetapi karena Indonesia akan menyelenggarakan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta anggota DPD RI, kemudian DPR RI hingga DPRD Provinsi dan kota, maka pertanyaannya adalah apakah sikap golput masih relevan?.

Setiap warga negara yang mempunyai hak pilih tentu sangat diharapkan memanfaatkan hak politiknya secara maksimal. Karena mereka sudah memanfatkan hak politiknya terebut maka nantinya mereka mempunyai hak untuk mengajukan tuntutan atau permintaan kepada presiden dan anggota lembaga legislatif.

Akan tetapi sebaliknya mereka tidak mau datang ke tempat pemungutan suara alias TPS untuk mencoblos maka masih berhakkah mereka menuntut berbagai hal kepada pemerintah dan juga anggota lembaga legislatif? Memang harus diakui bahwa ada orang yang atau segelintir orang yang dengan sangat terpaksa tidak bisa masuk ke TPS karena belum memiliki kartu tanda penduduk (KTP) elektronik atau harus pindah tempat tinggal sehingga tak sempat mengurus surat kepindahannya tersebut.

Karena pencoblosan surat suara tinggal belasan hari lagi, maka sekitar 190,7 juta calon pemilih sebaiknya sudah memiliki gambaran tentang gambar siapa yang bakal dicoblosnya. Mudah-mudahan tinggal sedikit warga yang masih termasuk "kelompok mengambang" (swing voter) dan kelompok calon pemilih yang masih belum menentukan siapa yang bakal dipilihnya (undecided voter).

Rakyat pada tanggal 13 April mendatang masih bisa menonton satu kali lagi tentang calon kepala negara dan wakil presiden favoritnya. Jadi saksikanlah lagi satu debat terbuka guna memuluskan pencoblosan pada 17 April mendatang. Janganlah dengar rayuan "gombal" kelompok golput untuk tidak memilih.

Jadilah seorang warga negara Indonesia (WNI) yang baik dengan memilih presiden dan wakil presiden terbaik dan terpercaya karena tantangan selama lima tahun mendatang sangat banyak dan amat menyulitkan. Masih sangat banyak orang di Tanah Air tercinta ini yang hidup dengan 1001 macam kesusahan.

Dengan mendengarkan debat capres sambil berpaling dari golput, maka gunakan hati nurani untuk memilih pemimpin-pemimpin NKRI yang amanah, yang siap berjuang 100 persen bagi masyarakat Indonesia dan tanpa melakukan korupsi ataupun gratifikasi.

Arnaz Ferial Firman adalah wartawan LKBN Antara tahun 1982-2018, pernah meliput kegiatan kepresidenan tahun 1987-2009.

 

 

 


Editor : Farida
KOMENTAR