ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH DESA | SCHOLAE

Rekam Jejak, Alasan Memilih Jokowi

Senin , 31 Desember 2018 | 17:09
Rekam Jejak, Alasan Memilih Jokowi
Jokowi saat resmikan Tol Pejagan-Pemalang (@jatengpict)
Mengapa Babo memilih Jokowi?
( revolusi mental ).
 
“ Mengapa Babo memilih Jokowi ? tanya nitizen. Saya males jawabnya. Karena persepsinya sudah terbentuk bahwa memilih Jokowi itu salah. Dalam tulisan ini saya tegaskan bahwa saya memilih Jokowi sejak tahun 2014 dan insya Allah 2019 karena alasan pribadinya. Saya tidak ada urusan dengan program kerjanya. Mengapa ? saya sadar bahwa saya memilih presiden untuk sebuah sistem yang tidak mungkin diubah hanya bergantinya presiden. Jadi sehebat apapun janji presiden, dia tetaplah produk demokrasi yang tunduk terhadap sistem yang ada. Didalam sistem itu ada UUD, UU dan Peratutaran dari tingkat Pusat sampai ke Daerah. Presiden disumpah untuk tunduk kepada UU dengan sepatuh patuhnya. Kepada Tuhan dia minta tolong. Bukan kepada Elite atau ke rakyat. Jadi tidak ada istilah kalau presiden berganti maka Pancasila juga diganti. UUD diganti.
 
Secara pribadi Jokowi punya rekam jejak yang tidak sulit diketahui. Karena dia bukan orang kebanyakan. Bukan lahir dari elite politik atau elite pengusaha. Artinya kalau ada berita bohong tentang pribadi Jokowi, orang biasa bisa meng counter nya. Tentangganya, teman kuliahnya, teman SMA nya, bahkan teman sepermainannya mudah mencounternya. Jokowi tidak pernah terlibat perbuatan amoral dari semasa remajanya sampai dia jadi pengusaha. Masa remajanya tidak ada cerita dia playboy. Atau melarikan anak gadis tanpa dinikahi. Sebagai pengusaha, tidak ada orang mengatakan Jokowi ngemplang utang. Tidak ada cerita Jokowi dilaporkan ke Pengadilan Pailit karena gagal bayar utang ke kreditur.
 
Teman saya pengusaha yang pernah dekat dengan Jokowi mengatakan bahwa Jokowi tidak pernah hobi meloby relasi bisnisnya dari luar negeri di tempat hiburan malam dan memanjakan diri bersama wanita wanita penghibur. Dia membangun kemitraan melalui intergritas dan komitmen yang kuat. Dia suami yang setia. Walau Jokowi tidak pernah berpolemik tentang Poligami namun dia anti poligami. Dia ayah yang baik. Memberikan pendidikan terbaik kepada putra putrinya. Sampai kini dia bisa menanamkan midset kepada anak anaknya untuk menjadi diri mereka sendiri tanpa harus menjadikan dia sebagai bayang bayang. Apalagi sebagai backing untuk mendapatkan proyek atau kredit bank.
 
Tidak banyak orang yang bisa menjadi ayah, suami dan pria yang baik sekaligus. Ahok pria yang baik dan ayah baik tetapi gagal sebagai suami. Prabowo hebat tetapi gagal menjadi suami. Punya catatan digugat kreditur karena gagal bayar utang. Punya catatan di pecat sebagai militer. Sandi hebat tetapi punya catatan digugat oleh ayah angkatnya yang juga mentornya. Punya catatan mengelola bisnis trust (perusahaan asuransi ) gagal. Trust itu hilang dan dipaksa dijual oleh OJK.
 
Terpilihnya Jokowi sebagai presiden dan menjadi berkah Tuhan untuk rakyat Indonesia tidak datang begitu seja. Kita sebagai bangsa indonesia harus melewati proses panjang. KIta harus merasakan 6 presiden yang berbeda. Itulah Pembelajaran. Sampai akhirnya kita dapatkan presiden. Yang bukan ulama. Bukan jenderal. Bukan profesor. Bukan konglomerat. Hanya orang biasa. Dari orang kebanyakan. Yang tidak beriklan untuk menjadi presiden. Yang tidak kemaruk harta. Itulah dasar saya memilih Jokowi. Andaikan Jokowi tidak terpilih, kitalah yang rugi. Jokowi sendiri tidak akan rugi. Dia sudah selesai dengan dirinya. Jauh sebelum dia jadi presiden.
 
Apakah saya salah bila saya muslim memilih presiden yang bukan dipilih oleh Itjima Ulama? Apakah salah, saya yang pengusaha mengharapkan presiden yang tidak pernah default utang. Apakah saya salah memilih presiden yang tidak punya jas Giorgio Armani.Tidak punya jet pribadi. Tidak punya rumah dikawasan elite. Yang putranya jualan martabak dan goreng pisang. Yang putrinya gagal test CPNS. Apakah salah? Kalau itu selah, biarlah. Bully lah. Saya memilhnya karena Tuhan. Cukuplah Tuhan sebaik baiknya penilai.
 

Editor : Wito
KOMENTAR