ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH DESA | SCHOLAE

Politik Pecah Belah ala FoF Hantui Pilpres 2019

Senin , 10 Desember 2018 | 19:03
Politik Pecah Belah ala FoF Hantui Pilpres 2019
Kasus operasi plastik Ratna Sarumpaet

Ibaratnya, kalo hoaks itu revolusi industri 3.0, Firehose of Falsehood (FoF) ini revolusi industri 4.0.

Karena FoF atau strategi politik selang pemadam kebohongan  manfaatkan ilmu komunikasi berdasarkan "neuroscience" dan "big data".

FoF ini strategi baru yg bisa untuk adu domba merusak bangsa, lebih ampuh dari hoaks.

Pertama dipakai Rusia waktu caplok Crimea.

Kemudian diikuti oleh beberapa kandidat yg ingin menang dg segala cara.

Trump di Amrik, Bolsonaro di Brazil, Le Pen yg rasis di Perancis, Salvini yg anti Islam di Italia, Brexit yg anti imigran di UK, dll

FoF ada yg berhasil ada yg tidak. Di Perancis dan di Jerman gagal.

Ciri2 strategi FoF:

1. Buat kontroversi dan provokasi
2. Diulang2
3. Tidak peduli dg data dan fakta
4. Tidak perlu konsisten

Tujuannya utk mengaktifkan "reptilian brain" orang dg "fear".

Mobil rombeng kalo diulang2 terus dibilang Alphard, lama2 orang akan percaya. Terutama yg kecerdasannya dibawah rata2.

Gimana cara mengatasinya?

Semakin banyak orang yang tahu bagaimana strategi FoF ini bekerja, ini akan jadi strategi daur ulang yg makin tumpul.

Indonesia beruntung karena strategi jahat ini sudah mulai banyak dibahas.

Gimana kita bisa bantu?

Edukasi ke komunitas masing2 agar menjadi tahu bagaimana FoF bekerja adu domba dan merusak sebuah bangsa.

FOF ini tujuannya menciptakan FUD (Fear, Uncertainty, Doubt)...

Salah satu teknik FoF : Kandidat A sengaja bikin statement salah, kemudian minta maaf.

Terus sengaja bikin statement salah lagi, kemudian minta maaf lagi.

Diulang2 beberapa kali

Setelah itu Kandidat A akan menuduh Kandidat B berbohong.

Karena tidak berbohong. kandidat B tidak meminta maaf.

Yang masuk ke "reptilian brain" pemilih: Kandidat A adalah pemimpin yang suka minta maaf. Kandidat B adalah pemimpin yang tidak suka minta maaf.

Dari Grup WA

KOMENTAR