ARAH KITA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Mantan Ketua dan Wakil Ketua DPR RI, Tersangka Kasus Korupsi, Tobatkah Para Koruptor?

Sabtu , 03 November 2018 | 13:46
Mantan Ketua dan Wakil Ketua DPR RI, Tersangka Kasus Korupsi, Tobatkah Para Koruptor?
Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan (tengah) dikawal petugas menggunakan rompi orange usai menjalani pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (Antaranews)

JAKARTA, ARAHPOLITIK.COM - Jumat Keramat menghantarkan Taufik Kurniawan menuju sakratul maut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Jika kasus tersebut benar, maka Taufik Kurniawan terancam hukuman 9 tahun penjara atas dugaan korupsi dana alokasi khusus (DAK) yang diskenariokan Bupati Nonaktif Kebumen, Muhamad Yayah Fuad (2016-2022).

Penetapan tersangka KPK atas Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan menambah daftar panjang anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang terjerat hukum karena tuduhan korupsi. Penahanan politikus PAN tersebut pun menjadi sejarah baru bagi DPR RI karena ketua dan wakil ketuanya sama-sama menjadi tersangka KPK.

Berikut arahpolitik.com, coba mengulas kasus korupsi yang diperankan oleh dua sosok politisi mantan Ketua DPR RI Setya Novanto (mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar) dan Wakil Ketua DPR RI, Taufik Kurniawan (Wakil Ketua Partai Amanat Nasional-PAN) yang adalah pimpinan dari 650 Anggota Dewan Yang Mulia di DPR RI periode 2014-2019.

Kita sejenak mengingat kembali kasus dugaan korupsi yang pernah dilakukan oleh Ketua DPR RI Setya Novanto dalam kasus proyek pengadaan Karti Tanda penduduk berbasis Elektronik (E-KTP) dengan pemeran utama berasal dari Partai Golongan Karya (Golkar) itu.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan status tersangka, Juli 2017 lalu, saat itu Setya Novanto masih berstatus sebagai Ketua DPR RI. Setelah itu Fungsionari Partai memutuskan Bambang Soesatyo, mantan Ketua Komisi Hukum (Komisi III) DPR RI menjadi Ketua DPR menggantikan Setya Novanto.

Mata dan telinga masyarakat tentu masih ingat, soal drama setelah Setya Novanto ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus e-KTP. Dia masih berkelit dengan sejumlah alasan kondisi fisik. Mulai dari sakit migren, jantung, hingga menabrak tiang listrik yang berujung keluarnya jendulan sebesar "bakpau" dari jidatnya.

Terkait Setya Novanto, bahwa berdasarkan putusan hakim, Novanto dinilai terbukti mengintervensi proses penganggaran dan pengadaan proyek E-KTP Tahun Anggara 2011-2013 tersebut. Dia dinilai terbukti mengais keuntungan sebesar USD 7,3 juta dari melobi proyek E-ktp itu.

Tindakan Setya Novanto dinilai menguntungkan pihak lain serta korporasi tertentu. Maka, atas perbuatannya, mantan Ketua Fraksi dan Ketua Umum DPP Partai Golkar itu dituding telah merugkan negara mencapai nilai Rp 2,3 triliun.

Dari penyidikan pihak terkait yakni lembaga hukum Pengadilan Tipikor PN Jakarta Pusat, hakim pun meyakini Setya Novanto terbukti memenuhi unsur dalam Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 yang kemudian diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Atas perbuatannya, Setya Novanto dihukum 15 tahun penjara plus denda sejumlah kerugian negara.

Pada Jumat (4/5/2018), Setya Novanto dibawah ke Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Di sanalah, Ketua DPR RI itu menjalani proses hukum sebagaimana diputuskan Pengadilan Tipikor.

Lalu, bagaimana dengan Wakil Ketua DPR RI koordinator Bidang Ekonomi dan Keuangan, Taufik Kurniawan yang pada Jumat (2/11/2018) kemarin resmi ditetapkan tersangka KPK atas dugaan korupsi Dana Alokasi Khusus Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah?

Kini, kursi pimpinan DPR kembali diguncang 'Jumat Keramat'. Adalah Taufik Kurniawan, politikus dari Partai Politik PAN, Amien Rais terhempas dari kursi Wakil Ketua DPR RI, karena diguncang dugaan komitmen fee 5 persen dari Rp 100 miliar Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Taufik resmi jadi tersangka dan ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pimpinan Agus Rahardjo,Cs. Status itu setelah menjalani pemeriksaan sekitar hampir 10 jam (09.30-18.20 WIB).

Kepada wartawan, Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, Taufik Kurniawan akan ditahan selama 20 hari pertama di rutan cabang KPK di Kantor KPK Kaav C-1, Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (2/11/2018).

Begitu keluar dari Gedung Merah Putih itu, Politikus Partai Amanat Nasional itu tampak mengenakan rompi berwarna orange, yang dipadu dengan baju batik dan peci berwarna hitam.

Dalam kasus ini, Wakil Ketua DPR RI, Taufik Kurniawan ditetapkan sebagai tersangka atas diduga menerima suap dari Bupati Kebumen nonaktif Muhamad Yahya Fuad senilai Rp 3,65 miliar. Dana Alokasi Khusus (DAK) itu dialokasikan sebesar Rp 100 miliar. Dari angka demikian, Taufik Kurniawan diperkirakan meminta fee sebesar 5 persen dari besaran alokasi DAK tersebut.

Sebagaimana diberitakan dan yang terungkap di KPK, bahwa Yahya Fuad menyanggupi permintaan fee tersebut dan uangnya disiapkan oleh sejumlah rekanan di Kebumen. Selanjutnya, uang kemudian diberikan secara bertahap. Belum juga menyerahkan uang pada tahap ketiga, Bupati Kebumen periode 2016-2021. Muhamad Yahya Fuad keburu ditangkap oleh tim penyidik KPK dalam operasi tangkap tangan (OTT) tersebut.

Namun, dalam kasus DAK Kebumen ini, Taufik tidak sendirian. Sebelumnya, Selasa, (30/10/2018), KPK juga mengumumkan penetapan tersangka Ketua DPRD Kabupaten Kebumen Cipto Waluyo. Dia diduga menerima duit Rp 50 juta dalam rangkaian perkara yang sama dengan Taufik Kurniawan. Apabila dugaan itu terbukti, maka Taufik Kurniawan mendapat hukuman penjara selam 9 tahun oleh Pengadilan Tipikor.

"Secanggih-canggihnya rekayasa manusia, tapi rekayasa milik Tuhan adalah sempurna," demikian kata Taufik setelah resmi ditahan oleh KPK di Gedung merah Putih, Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (2/11/2018) kemarin. (Laporan: Rafael)

KOMENTAR